Minggu, 13 Desember 2015

KEMURNIAN ISLAM DAN KEMURNIAN NASRANI

Menggali sebuah ajaran dari tuhan yang sebenarnya, berdasarkan Al-Qur’an dan Al-kitab
1. Agama Nasrani : berasal dari kata najran/nazaret tempat dimana Yesus pertama kali menyampaikan ajarannya. Atau juga di sebut agama Masehi yang artinya Almasih. Beliau tidak pernah menamakan kristen, dan di dalam Al-Qur’an pun hanya menyebut istilah Nasrani.
2. Agama Hindu: berdasarkan ini nama tempat agama berasal dari Hindustan di Hindia.
3. Agama Zaratrusta: ini adalah nama pembawa ajarannya agama Majusi penyembah api.
4. Agama Budha: dari nama tempat pohon bodhi tempat Sidharta Gautama bersemedi.
5. Agama Kristen: dari bahasa Yunani dari kata Kristos yang artinya yang diurap, padahal Yesus tidak kenal istilah kristen.
Dan inilah yang menjadi sangat konstroversi. Yesus dari Israel, berbangsa Yahudi berbahasa Ibrani. Kenapa muncul ajaran dan kitab-kitabnya dalam bahasa Yunani dan di bungkus kebudayaan kebudayaan Yunani. Padahal dari lisan Yesus tidak pernah terucap kata kristen/kristos dan beliau tidak kenal dengan bangsa Yunani. KarenaYesus hanya diutus untuk kalangan khusus orang Yahudi bukan untuk non yahudi.
Agama wahyu atau agama budaya
Ciri-ciri agama wahyu antara lain:
a. Berasal dari wahyu Alloh, bukan ciptaan manusia/ siapapun selain Alloh.
b. Ajaran ketuhanannya monotheisme (meng-Esa-kan Tuhan secara mutlak)
c. Disampaikan oleh manusia yang dipilih oleh Alloh sebagai Nabi/Rosul-Nya, dengan cirinya memiliki mukjizat.
d. Mempunyai kitab suci yang otentik (original), bersih dari campur tangan manusia.
e. Ajaran-ajarannya bersifat tetap, tidak berubah-ubah, walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan pengikut-pengikutnya.
Ciri-ciri agama budaya antara lain:
a. Hasil fikiran dan perasaan manusia.
b. Ajaran ketuhanannya politheisme (bertuhan lebih dari satu), dinamisme dan animisme
c. Tidak disampaikan oleh Nabi/Rosul Alloh
d. Umumnya tidak mempunyai kitab suci. Kalau pun ada, sudah mengalami perubahan-perubahan (bertambah dan berkurang) dalam perjalanan sejarahnya
e. Ajaran-ajarannya berubah-ubah, sesuai dengan perubahan akal fikiran pengikut-pengikutnya
Setelah dilakukan kajian dan uji materi dari berbagai kalangan, ternyata agama yang masih layak disebut agama wahyu ialah agama Islam.
Ruang lingkup ajaran Islam sangat sempurna dan dapat dilihat dari namanya
Dari namanya saja Islam adalah sebaik-baik nama sehingga tidak ada kata untuk sebutan lain yang bisa manggantikannya. Berbeda dengan nama-nama agama selain Islam. Nama Islam diberikan oleh Alloh sendiri, antara lain di sebutkan dalam QS. Ali-Imron ayat 19:
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Alloh adalah Islam”
Kemudian di dalam QS. Al-Maidah ayat 3: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam menjadi agama bagimu.”
Berikut perbedaan-perbedaan ciri khas nama Islam dengan agama yang lain
A. Nama Islam adalah wahyu dari Alloh.
B. Tidak ada nama Muhammadism. Hal ini tidak di kenal di kalangan kaum muslimin, dan tidak sepatah katapun disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.
C . Kalau Islam itu muhammadism, berarti Islam itu isme (paham /aliran) ciptaan nabi Muhammad SAW, seperti hanya marxisme adalah isme/paham ciptaan Karlmax. Ini jelas salah sebab Islam adalah wahyu dari Alloh. Sedang tugas Nabi Muhammad SAW hanyalah menyampaikan/mengajarkan wahyu itu kepada manusia.
D. Penamaan Islam tidak dengan istilah Muhammadism, ada mengacu kepada Muhammad yang menurut kaum orientalis adalah pencipta agama Islam dan hal ini berbau kultus, sesuatu yang justru sangat di tentang Nabi Muhammad SAW. Nama Islam mengacu kepada makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dan Islam itu yang mencerminkan kepribadian sebagai suatu agama. Beberapa agama di luar Islam memang mempunyai nama yang berorientasi kepada nama pendirinya, seperti agama Masehi, agama Budha, dan agama Zarathustra. Ada juga agama yang namanya dikaitkan dengan lingkungan umat tempat agama itu lahir dan berkembang, misalnya agama Yahudi dinamakan agama Yahudi karena agama itu lahir dan berkembang di lingkungan suku Yahuda, salah satu suku bani Isroil tetapi sistem penamaan yang berorientasi kepada nama pendiri agama/dikaitkan dengan umat ini tidak berlaku dalam Islam. (Abul A’la Al-Maududi 1983 : 7, dan Maulana Muh Ali 1977 : 1)
Kemudian Islam menurut pengertian istilah (terminologi) mempunyai 2 macam pengertian yaitu pengertian khusus dan pengertian umum.
Pengertian yang sudah di maklumi oleh kebanyakan orang bahwa Islam ialah agama Alloh yang di bawa Muhammad SAW. Pengertian yang demikian ini memang tidak salah tetapi ini adalah pengertian menurut istilah khusus. Islam mempunyai cakrawala pengertian yang lebih luas dari itu. Sesungguhnya islam juga agama yang dibawa dan diajarkan oleh semua nabi dan rosul yang lahir di berbagi masa dan tempat, sejak nabi yang pertama sampai dengan yang terakhir.
Keistimewaan dan kesempurnaan Islam
Agama Islam mengatur di segala aspek kehidupan manusia  dengan sangat detail. Dan hanya islamlah yang memberi nilai-nilai ajaran yang sampai pada titik paling detail ini. Dengan demikian semakin memperjelas dan mempertegas bahwa ajaran Islam-lah yang benar-benar berupa ajaran wahyu dari Alloh, yang masih murni tanpa campur tangan manusia sedikit pun.
Jika sesuatu itu atas campur tangan manusia pasti banyak kekurangan. Di dalam setiap aspek ini sebagaimana undang-undang negara kita yang selalu mengalami amandemen/penambahan dan pengurangan. Inilah salah satu contoh bahwa Islam adalah ajaran yang sempurna. Mengupas segala sesuatu secara detail ialah membahas dari hal yang paling sepele sekalipun. Di terangkan dalam hadist riwayat Bukhori Rosululloh SAW bersabda:
“Seorang muslim menanam padi kemudian di makan oleh burung atau manusia, maka baginya di nilai sedekah”
kemudian Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim itu terkena musibah tertusuk duri pada kakinya maka baginya diampuni dosanya dan di angkat derajadnya.”
Dan dalam hablum minannas/hubungan baik sesama manusia, Islam mengatur hal-hal yang berkenaan dengan mu’amalah/hubungan perdagangan dan utang piutang supaya salah satu pihak tidak ada yang di rugikan. Kemudian dalam hal yang sangat  remeh sekali pun, Alloh mengaturnya. Anda pasti tidak menyangka. Seorang muslim yang meminjam sandal atau sekedar lewat kebun tetangganya tanpa izin pun, itu di larang dalam Islam. Bahkan diterangkan dalam hadist lainnya
“Seekor kambing yang memiliki tanduk kemudian menanduk kambing lainnya yang tidak bertanduk, kelak di akhirat Alloh akan mengadilinya.” [Al-Hadist].
Bayangkan betapa mulia dan sempurna ajaran Islam ini. Sungguh Islam adalah jalan hidup yang sempurna, dan nilai-nilainya tidak tertandingi.kemudian nilai-nilai ajaran yang terkandung didalam nya secara kedokteran dan hukum fisika/sains, telah terbukti relevan,tidak bertentangan dengan hukum-hukum tersebut.



Keautentikan/keaslian Al-Qur’an
Masalah yang di hadapi oleh kitab suci pada umumnya ialah ketidak-mampuan mempertahankan diri dalam wujud aslinya, sebagai kitab suci yang telah tercemar di makan zaman. Nasib yang menyedihkan ini, Alhamdulillah tidak menimpa kitab suci Al-Qur’an. Sejak diturunkan pada Rosululloh SAW sampai kini, Al-Qur’an tetap pada keautentikannya. Selamat dari pemalsuan-pemalsuan yang berupa penambahan/pengurangan, bahkan sampai kapanpun insya Alloh. Al-Qur’an akan tetap mampu bertahan dalam keasliannya yang demikian.
Pertama, karena Al-Qur’an mempunyai sejarah penulisan yang gemilang. Penulisan Al-Qur’an telah di mulai di masa hayat (hidup) Nabi Muhammad SAW yang di kerjakan dengan baik oleh dewan penulis wahyu. Tatkala beliau wafat Al-Qur’an telah selesai di dokumentasikan dalam bentuk tulisan. Kemudian penulisan Al-Qur’an ini dilanjutkan di zaman khalifah Abu Bakar, sampai khalifah Ustman bin Affan dalam bentuk yang lebih sempurna.
Selain kepada Al-Qur’an orang Islam pun wajib beriman kepada kitab Zabur, Taurat, Injil. Tetapi sayangnya tiga kitab suci di luar Al-Qur’an itu tidak memiliki sejarah penulisan yang gemilng seperti halnya Al-Qur’an. Kitab Injil misalnya, dari empat buah Injil yang ada sekarang ini yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya, yang paling awal di tulis ialah Injil Matius pada tahun 50 M oleh Matius dan yang paling akhir ialah Injil Yahya pada tahun 80-90 M oleh Yahya. Padahal Nabi Isa di panggil oleh Tuhan menghadap kehadiratnya dalam umur 33 tahun. Dengan demikian 17 tahun/bahkan 47 tahun setelah Nabi Isa tidak ada, barulah Matius dan Yahya menulis Injilnya masing-masing.
Al-Qur’an tidak kehilangan bahasa aslinya: yaitu bahasa arab, dan tetap terjaga dengan baik dalam bahasa aslinya itu sampai sekarang. Dan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat yang lainya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang berasal dari Alloh. Sesuai dengan firmannya QS. An-Nisa: 82:
“Apakah mereka tidak memikirkan Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Alloh, tentulah akan mereka jumpai di alamnya pertentangan yang banyak.”
Diantara isi Al-Qur’an ada yang berupa ramalan-ramalan tentang peristiwa-peristiwa yang belum terjadi tetapi kemudian betul terjadi. Misalnya ramalan tentang kemenangan akhir Romawi dalam perang melawan Persia. Dan di dalam Al-Qur’an bertebaran ayat-ayat ilmiah, yang mengandung keterangan keterangan tentang ilmu pengetahuan, yang ternyata kemudian diakui kebenarannya oleh ilmuan dan teknologi modern saat ini:
w Adz-Dzariyat ayat 49 dan Luqman ayat 10 menyebutkan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Alloh serba berpasang pasangan. Hal ini telah terbukti pada manusia, hewan, tumbuhan termasuk pada arus listrik positif dan negatif, proton dan elektron.
w Al-Hijr ayat 22, menyebutkan bahwa salah satu fungsi angin ialah untuk mengawinkan tumbuh-tumbuhan, yang saling berjauhan dan terbukti dalam ilmu pengetahuan alam bertemunya antara benangsari dan kepala putik.
w Al-Mu’minun ayat 14, menyebutkan proses terciptanya manusia dari alam kandungan.
w Al-Anbiya ayat 30, menerangkan bahwa dulunya langit dan bumi itu bersatu, lalu pecah menjadi dua bagian dan itu sesuai dengan teori big bang dan masih banyak ayt-ayat yang lain sesuai dengan fakta-fakta ilmiah modern saat ini.
Maka dilarang bagi kita untuk mendustakan atau mengingkari satu ayatpun, karena jika kita mengingkari satu ayat saja maka sama saja kita menolak semuanya. Sebagaimana firmannya QS. Al-Baqoroh ayat 85:
“...Wahai bani Israil apakah kalian beriman kepada sebagian Taurat tetapi mengingkari sebagian yang lainnya...”
dan QS. An-Nisa ayat 150-151 : “...kami beriman kepada sebagian nabi tetapi kami kafir kepada sebagian nabi lainnya... // orang-orang yang kafir kepada Alloh dan kepada para rosulnya dan orang-orang yang kafir kepada sebagian rosulnya adalah orang-orang kafir sejati, kami siapkan untuk orang-orang kafir itu siksa yang amat menghinakan martabat mereka di akhirat.”
Definisi menolak ialah menyatakan tidak setuju/mengingkari, akan konteks kebenaran ayat tersebut, sehingga mengklaim ayat-ayat itu adalah suatu kesalahan. Berbeda dengan orang yang menerima tapi tidak mau mengamalkannya, yang demikian ini di hukumi fasik, sedangkan orang yang menolak dihukumi kafir.
Telah kita ketahui bersama betapa kebenaran Al-Qur’an itu 100 % tidak ada keraguan sedikitpun. Didalamnya ada enam ribu ayat lebih dan tidak ada pertentangan antara ayat satu dengan ayat yang lainya, sungguh ini merupakan ke-Mahaluasan ilmu Alloh, yang tidak ada batasnya. Bahkan Alloh menantang kepada seluruh manusia dan jin untuk bersatu guna membuat satu ayat pun/satu surat yang serupa dengannya. Dan tidak akan ada yang bisa meskipun mereka mengerahkan segenap kekuatannya. Dengan demikian apakah kita masih menjadikan pedoman-pedoman hidup yang lainnya selain Al-Qur’an, padahal telah jelas kebenaran yang disampaikannya baik yang telah berlalu, sekarang, dan yang akan terjadi. Benar telah terbukti semuannya, maka saya mengajak kita merenungkan langkah apa yang akan kita jalankan?  Hanya ada satu jawabnya : berada di atas kebenaran, mari menuju kebenaran dan senantiasa berjalan di atas cahaya kebenaran Al-Qur’an dan Hadist.
Perbandingan ayat ayat pada Al-Qur’an dan Al-kitab
Lazimnya kita beragama pada umumnya kita hanya ikut orang tua saja. Sebagaimana dalam QS Al-A’raf ayat 172 : “Ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya Alloh berfirman bukankah Aku ini tuhan kalian? Mereka menjawab betul engkau tuhan kami, kami menjadi saksi, kami melakukan yang demikian itu agar pada hari kiamat sesungguhnya kami bani adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan-Tuhan)” ayat tersebut sesuai dengan sabda nabi SAW
“Setiap bayi dilahirkan dalam  keadaan fitrah. Ibu bapanya lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhori-Muslim)
Kita tidak berpikir apa agama itu benar/salah? Jika kita lahir di barat maka agama kita Kristen, kemudian jika kita lahir di timur maka agama kita Islam, jika kita lahir di Himalaya maka agama kita Hindu atau Budha.
Jadi dalam soal ini kita tidak bicara tentang keyakinan, tapi kita paparkan bukti kebenaran.
Jika Islam itu benar apa buktinya?, jika Kristen itu benar apa buktinya? Untuk pembuktian agama benar atau tidak, tidak boleh kita mengindikasikan pada umat yang memeluk keyakinan tersebut. Contoh jika di Indonesia banyak koruptor maka kita mengklaim berarti Islam itu jelek. Ini adalah indikasi yang tidak tepat, serta tidak boleh mengindikasikan pada jumlah pemeluknya/kuantitas, maka kebenaran agama ini dapat di lihat dari kitabnya.
Memang kitab itu benar dari Tuhan maka tidak boleh ada kesalahan sedikitpun karena mustahil Tuhan berbuat suatu kesalahan.
Mari kita buktikan dua hal saja:
1. Bukti nyata Qur’an ialah mu’jizat terbesar sepanjang masa sudah teruji ribuan kali atau tak terhingga akan keautentikan dan kebenaran fenomena ayat-ayatnya
2. Bukti nyata apakah Injil banyak kesalahan tentang ajaran dan ayatnya? Silahkan anda teliti dan kita kaji bersama. Selain kontradiksi antara ayat satu dengan yang lainnya kemudian antara firman dan sabda, kami temukan ayat-ayat Injil yang porno, binal dan tidak berperadaban. Dan kami tidak akan menulisnya secara explisit di buku ini,karena kami merasa ayat tersebut sangatlah tidak pantas,  Apabila di expose dan disampaikan ke publik silahkan buka Al-kitab anda di rumah Amsal 7:16; Yehez Kiel 23:1, 16:25, 16:26; Hosea 1:2; Yesaya 20:7 dan masih ada ratusan ayat lagi yang menerangkan hal-hal porno secara vulgar. Dan saya penulis memiliki kitab Injil yang khusus di peruntukan bagi Anak-anak.
Inilah perbedaan antara Agama Islam dan Kristen. Jika Agama Islam masih sangat terasa ke Auntentikannya dan bisa di telusuri secara historis, serta sangat mudah di terima dengan akal sehat.
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur-an yang sesuai dengan fenomena-fenomena alam baik yang telah berlalu/yang akan datang. Dan semuanya telah terbukti kebenarannya, salah satu contoh adalah fenomena terciptanya alam semesta melalui ledakan besar (Big Bang) yang sesuai dengan QS. Al-Anbiya ayat 30:
“Tidakkah orang-orang kafir itu mau berfikir! bahwa langit dan bumi pada awalnya satu benda. Lalu kami pisahkan menjadi langit dan bumi. Segala sesuatu yang hidup kami ciptakan dari air, tidakkah orang-orang kafir itu mau beriman?”
kemudian di dalam Al-Qur’an juga menerangkan bahwa bumi mengelilingi matahari. Dan para ilmuan telah membukti-kannya memang demikian.
Tetapi pihak gereja Eropa justru menghukum mati Copernicus yang menyatakan bahwa bumilah yang mengelilingi matahari.
Kemudian coba anda bandingkan ayat di bawah ini antara Al-Qur’an dan Injil. Jika di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 126 menerangkan:
“Wahai kaum mukmin jika kalian membalas serangan musuh kalian, balaslah dengan setimpal sesuai serangan yang di tujukan kepada kalian tetapi jika kalian bersabar, hal itu lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.”
Coba kita lihat di dalam Injil Lukas ayat 6 pasal 29: “Kepada yang menampar pipimu sebelah berilah juga padanya pipi yang sebelah lagi, dan orang yang mengambil jubahmu, jangan di cegah untuk mengambil bajumu.”
Kalau di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 126 sangatlah jelas dan logis kita untuk menerimanya tetapi untuk Injil Lukas, ayat 6 pasal 29 tampaknya kita/bahkan semua orang tidak mau diperlakukan demikian: di tampar pipi kiri lalu di beri pipi kanan, di ambil jubahnya kemudian malah membiarkan di ambil bajunya sekalian. Saya kira logika yang waras akan keheranan dan bingung untuk mengaplikasikan hal tersebut.
Menguji materi Alkitab
Sekedar mengingatkan kepada saudara-saudara muslimku yang memiliki keraguan kepada ajaran agama islam, kemudian terlintas dalam benak pemikirannya untuk berpindah agama (murtad). Kemudian dengan tidak ada sedikitpun niat untuk menghina ajaran agama yang lainnya, disini kami sekedar melakukan uji materi kelayakan dalam kitab Injil. Diterangkan didalam Injil Markus pasal 12: 28-29:
“Bahwa waktu itu orang-orang ahli ibadah dari kalangan Yahudi (orang Saduki) mendatangi Yesus dan bertanya kepada beliau: wahai Yesus, hukum manakah yang paling utama?,  jawab Yesus: Dengarlah hai orang-orang Israil bahwasanya tuhan Allah kita. Tuhan itu Esa.”
Disini kalimat “kita” berarti jamak, yang tanya dan di tanya sama saja, dan kita ketahui bahwa Yesus tidak mengatakan Tuhanmu adalah aku.
Dan hukum yang ke dua Yesus berkata : “Kasihilah tuhan Allah-mu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap kekuatan mu dan segenap akal budimu.”
Hukum ke tiga, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”
Kemudian orang Saduki berkata tepat sekali perkataanmu wahai Guru. Bukan tepat sekali perkataanmu itu wahai Tuhan. Telah kita ketahui bersama, waktu Yesus hidup tidak ada yang menyembahnya/tidak ada yang menganggapnya Tuhan. Tapi kenapa setelah beliau meninggal di sebut Tuhan? Berarti setelah di salib dan mati, dia di daulat oleh umatnya sebagai Tuhan. Ini berarti tuhan yang dilantik oleh hambanya.
Selain dari pada agama Islam, ajarannya sudah banyak terkontaminasi oleh akal pikiran manusia. Sehingga tidak layak disebut dengan agama wahyu. Karena campur tangan yang dilakukan manusia menyangkut hal-hal yang prinsip. Dalam pokok ajaran agama tersebut.
Melihat fakta yang ada semenjak disalibnya Yesus/ diangkatnya kehadirat Alloh. Maka dengan sangat jelas terjadinya, “campur tangan manusia” di dalam penulisan Alkitab. Coba anda perhatikan betapa banyak perbedaan yang sangat kontradiktif di dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kemudian beberapa kali konggres yang di gelar, oleh kerajaan dan ke-uskupan untuk menentukan hal-hal yang mendasar, atau hal-hal yang paling prinsipil dalam agama itu. Bayangkan mereka melakukan konggres beberapa kali untuk menentukan substansi daripada Tuhan.
Kemudian masih segar di dalam ingatan kita, akan tangan besi /kediktaktoran pihak gereja yang menghukum mati Copernicus. Padahal jelas dan terang benderang bahwa Copernicus berpijak di atas kebenaran, dengan alat bukti yang kongkret. Jika kita mengacu dengan satu kejadian yang menimpa Copernicus ini saja, rasanya sudah cukup bagi kita untuk menilai bagaimana arogansi dan kerancuan tanpa ilmu, hanya sekedar dogma belaka, yang digunakan gereja pada waktu itu. Dan berikut kami uraikan kerangka dasar ajaran Kristen.
Cara menguji kebenaran keaslian firman Tuhan dan sabda Rasul.
Cara menguji sebuah ilmu kebenaran itu sangatlah mudah. Pada intinya antara firman Tuhan dan sabda Rosul itu tidak mungkin bertolak belakang/kontradiksi. Bahkan, justru menjadi sebuah sinergi komprehensif yang saling menguatkan. Jika ada kontradiksi antara firman Tuhan dan sabda Rosul, berarti salah satunya bermasalah. Atau justru ke dua-duanya dipalsukan sebagian atau seluruhnya.
Dan jika ada sabda yang bertentangan dengan firman Tuhan maka sabda Rosul harus di hapus, sedang yang berlaku adalah firman Tuhan. Walaupun keduanya bisa dipalsukan, tetapi untuk memalsu firman Tuhan jauh lebih sulit, di karenakan firman Tuhan lebih universal dan lebih mahsyur di kalangan umat.
Kemudian untuk meneliti firman itu asli atau tidak, sangatlah mudah. Ada banyak indikator, tapi disini kami cukup sampaikan dengan dua saja:
 1. Sejalan dengan akal sehat kita, karena agama ini adalah untuk manusia, tentunya nilai nilainya selaras dengan akal sehat kita, mudah dipahami, sederhana, tidak hanya orang orang khusus yang dapat memahaminya. Lantas kita hanya menurut dogma saja.
2. Relevansi firman dan sabda, firman itu biasanya sejalan dengan sabda, yang disampaikan oleh Rosul-rosul terdahulu. Kemudian satu dan yang lainnya saling melengkapi dan menyempurnakan karena para nabi/rosul itu satu wadah serta satu kesatuan dalam visi dan misinya. Mereka manusia-manusia pilihan Alloh, yang di karuniai kadar iman yang tinggi, serta mu’jizat dan senantiasa berjalan di atas bimbingan-Nya, sehingga selalu berpijak di atas kebenaran.
Maka menjadi sifat mustahil bagi seorang nabi untuk berdusta apalagi menipu umatnya dengan maksud untuk memperoleh keuntungan dunia. Apakah bisa di percaya jika seorang Nabi manakala Sabdanya bertentangan dengan firman Tuhan!? serta bertentangan dengan sabda-sabda Nabi sebelumnya? Apa bisa di benarkan seorang yang mengaku nabi kemudian menarik pajak penghasilan yang memberatkan umatnya?
Disini kami tidak ingin menghakimi/mengklaim ini salah atau benar, tetapi mengajak untuk menganalisa dengan akal sehat dan hati nurani yang jernih, agar dapat menemukan esensi kebenaran! Dan inilah wujud solidaritas kami kepada saudara kami umat Kristiani. Kemudian sepenuhnya kami serahkan kepada Anda bagaimana menyikapinya.
Kebenaran adalah suatu nilai-nilai luhur yang tidak tertandingi (diatas sagala-galanya). Tanpa kebenaran dunia bagaikan hutan rimba yang tidak berperadaban.
Teori komparasi antara firman dan sabda
Akal manusia adalah sarana pendeteksi karena sebuah kebenaran dan kesalahan. Dan itu dapat dirasakan secara fitrah oleh akal dan hati kita. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW berpesan pada kita, tentang apa yang di maksud dengan  pahala dan dosa?    
“Pahala ialah sesuatu hal yang membuat hati kalian tenang, sedangkan dosa sesuatu hal yang membuat hati kalian resah.” (Al-Hadist)
Maka secara otomatis, naluri kita akan bisa membedakan apakah itu firman Tuhan, sabda Rosul atau perkataan hikmah dari manusia, atau bisa jadi  justru kedustaan manusia yang mengaku Nabi.
Coba anda telaah ayat dan sabda di bawah ini QS. Hud ayat :114;
“Sesungguhnya kebaikan menyebabkan adanya cahaya di dalam hati, sinar pada wajah, keluasan pada rezeki, kekuatan pada badan dan cinta kasih dalam hati makhluk.”
Sabda Nabi, “Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal darah. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (HR. Bukhori no. 52 dan Muslim 1599)
Nabi bersabda yang diriwayatkan Tirmidzi dan Ibnu Majah, “Jika seorang hamba berbuat dosa, maka akan ditorehkan sebuah noktah hitam di dalah hatinya. Tetapi jika ia meninggalkannya dan ber-istighfar niscaya hatinya akan dibersihkan dari noktah hitam itu, sebaliknya jika ia terus berbuat dosa, maka noktah-noktah hitam akan terus bertambah hingga menutup hatinya.”
Dan itulah yang menjadi dinding penutup yang Alloh sebutkan dalam QS. Mutthaffifin ayat: 14
“Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang mereka kerjakan itu menutup hati mereka.”
Lihatlah firman dan sabda diatas tidak mungkin bertolak belakang! Dan coba anda telaah untaian kata, kalimat dari pada firman dan sabda. Begitu tinggi dan bermakna, serta mudah diresapi dalam hati.
Ayat diatas hanya salah satu contoh saja, yang intinya sebuah relevansi, jika firman/ayat Al-Qur’an itu bicara pada garis besar saja, kemudian sabda (Hadist/perkataan nabi) akan mendefinisikannya, sampai pada titik point, kesimpulan atau penelaahan paling akhir. Maka di dalam Islam tidak dibenarkan orang yang hanya berpijak pada salah satunya saja, firman atau sabda. Harus kedua-duanya.
Intinya firman Tuhan itu akan saling menguatkan dan melengkapi, antara bunyi ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Kemudian jika tidak ada penelaahan di ayat berikutnya, barulah sabda nabi akan menjelaskannya.
Maka sangat tidak mungkin jika bila ayat/firman itu benar-benar dari Tuhan terjadi kontradiksi kemudian rasul yang notabenenya utusan Tuhan justru mengeluarkan statemen yang bertolak belakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar