Jumat, 11 Desember 2015

GERAKAN RENAISSCANCE MERUNTUHKAN AROGANSI GEREJA

Hukum timbal balik bagi Gereja
Dampak Renaissance – Eropa Abad Pertengahan memiliki ciri khusus di mana kekuasaan Gereja berpengaruh sangat dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakan negara saat itu. Hal ini lebih lanjut juga mempengaruhi sistem filsafat jaman itu, berikut pula perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya. Ilmu pengetahuan dipandang dan digunakan untuk melegitimasi keyakinan yang didasarkan pada dogma-dogma agama. Filsafat pun demikian. Pendeknya, sebagaimana tradisi skolastik, segala sesuatu harus disesuaikan dengan kepercayaan akan dogma-dogma agama.
Cara pandang modern sebagai lawan dari cara pandang Abad Pertengahan dimulai di Italia dengan gerakan yang disebut Renaissance. Gerakan ini merupakan antitesa bagi corak kesadaran Abad Pertengahan yang ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren dan sistematis yang tampil dalam bentuk metafisika atau ontologi. Lorens Bagus, dalam Kamus Filsafat-nya menyatakan setidak-tidaknya empat manifestasi utama Renaissance, yakni:
1. Gerakan Humanisme yang berusaha tidak saja untuk menerjemahkan sumber-sumber Yunani dan Romawi, tetapi juga mencari nilai atau gaya hidup manusia yang terkandung di dalamnya.
2. Penolakan tradisi Aristotelian (semua benda bergerak menuju satu tujuan dan benda itu harus ada penggeraknya, yaitu Theos (Tuhan) ). Abad Pertengahan. Hal ini diikuti dengan bangkitnya Platonisme (beraliran idealis-empiris yang bersifat matematis).
3. Keterbukaan kepada ilmu-ilmu yang baru mulai terbentuk.
4. Ketidakpuasan dengan kemapanan yang terjadi dalam lapisan agama. Hal ini mengarah kepada Reformasi Protestan.
Sebagai bentuk kesadaran, modernitas dicirikan oleh tiga hal, yaitu: subyektifitas, kritik, dan kemajuan. Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya Renaissance sebagai gerakan yang berusaha mendobrak kejumudan kreatifitas berpikir manusia di bawah otoritas gereja saat itu.
Apa yang dikehendaki oleh Renaissance adalah hal-hal baru sebagai kritik terus-menerus terhadap nalar teosentrisme yang melulu dipelihara pada abad pertengahan. Dari situ kemudian lahirlah berbagai macam bidang keilmuan yang dipisahkan dari pengaruh agama dan dogma, dengan sepenuhnya didasarkan pada kekuatan subyektif akal-budi manusia (antroposentrisme).
Renaissance, meskipun bukan gerakan populer dan hanya dimotori oleh segelintir intelektual dan seniman “liberal”, gerakan ini mempengaruhi banyak hal dalam peradaban Eropa. Seni, sains, filsafat, dan —lebih dari itu— pola hidup Eropa, secara revolusioner bergerak menjauh dari style Abad Tengah yang puritan/menjauhi kemewahan menjadi liberal. “Cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) yang dibawa Descartes, filsuf Perancis menjadi pondasi yang sangat mendukung hal itu.
Secara ringkas dapat diketahui beberapa perubahan yang sangat signifikan terjadi di Eropa yang dalam hal ini berkenaan dengan pengaruh Renaissance, yakni di bidang sains (berikut juga seni), paradigma sosial, politik, serta ekonomi.
Ada cukup alasan yang menjadi dasar bagi pertentangan antara otoritas gereja dengan kepentingan sains. Salah satu alasan yang kiranya paling mendasar adalah bahwa dalam kenyataannya, sains sebagai sesuatu yang relatif, seringkali bertolak belakang dengan apa yang diajarkan dan dianjurkan oleh gereja. Maka logislah jika selama gereja berkuasa ruang bebas bagi sains menjadi sempit.
Pembebasan dari otoritas gereja mendorong terbentuknya cara berpikir yang sama sekali berbeda dengan dogma Abad Pertengahan. Otoritas gereja menyatakan ketentuan-ketentuannya sebagai kepastian absolut dan tidak bisa diubah selamanya. Objektifitas semacam ini tentu menjadi ruang sempit bagi kebebasan akal manusia untuk berkreasi. Pada Renaissance, otoritas gereja yang absolut itu diluluh-lantakkan sedemikian rupa oleh sains yang pernyataan-pernyataannya dibuat secara tentatif berdasarkan kemungkinan (relatif) dan dianggap bisa dimodifikasi.
Renaissance merupakan masa kebangkitan bagi sains. Gerakan ini mendorong tumbuhnya kebiasaan untuk menghargai aktifitas intelektual sebagai sebuah kerja sosial yang sulit, penuh tantangan dan menyenangkan, bukan meditasi menyendiri yang bertujuan memelihara ortodoksi predeterministik. Pada masa itulah tokoh-tokoh saintis banyak sekali muncul di Eropa. Di antara mereka kita kenal beberapa yang dapat dikatakan terbesar dan paling berpengaruh. Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton adalah tokoh besar yang pengaruhnya sangat menentukan bagi perkembangan sains selanjutnya. Selain itu, berbagai macam penemuan mulai dari teleskop, mikroskop, mesin cetak, kompas, mesiu, dan sebagainya, merupakan hasil dari perkembangan sains dan ilmu pengetahuan yang luar biasa pada abad itu.
Kecenderungan baru pada masyarakat Eropa ini juga memacu perkembangan dunia seni secara revolusioner. Kebebasan berekspresi demikian menggebu-gebu mengalahkan segala tabu yang pada Abad Pertengahan menghegemoni perkembangan pemikiran manusia. Dalam hal ini Renaissance, lebih jauh dari pada membebaskan, juga membuat Eropa mengalami euforia. Seni untuk seni, sebagaimana sains untuk sains, adalah slogan yang sangat mengakar pada kesadaran banyak seniman Eropa Abad Renaissance. Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci adalah dua di antara para jenius yang dibesarkan dalam ruang euforia itu.
Selanjutnya, apa yang juga menjadi dampak langsung dari Renaissance adalah berubahnya atmosfir sosial-politik di daratan Eropa. Hal ini terjelaskan dengan menguatnya negara-negara yang menggantikan gereja sebagai otoritas politik yang mengontrol kebudayaan. Ini merupakan awal bagi demokrasi, dalam pengertiannya sebagai paradigma sosial yang modern, yang menjadi sebuah kekuatan politik penting menggantikan monarki absolut.
Bentuk pemerintahan demokratis yang muncul sebagai paradigma baru tersebut kemudian pada perkembangannya diikuti dengan munculnya bentuk kebudayaan baru, yakni kebudayaan liberal. Model ekonomi feodalistik yang diganti dengan model kapitalistik adalah suatu pengejawantahan, sekaligus konsekuensi logis, dari paradigma liberal yang berlaku, yang memiliki pondasi kuat berupa individualisme dan, tentu saja, humanisme. Lantas, tidak hanya sampai di sini, dialektika yang berlangsung dalam situasi ini pun mendorong sekularisasi, yaitu pemisahan kekuasaan politis dari agama.
Hubungan dengan perkembangan dunia timur
Hal yang sangat mendasar yang harus kita ketahui dari zaman Renaisance dan kemudian berlanjut dengan invasi besar-besaran “Bangsa Barat” ke “Dunia Timur” adalah :
1. Ditemukannya mesin cetak oleh Jihann Gutenberg pada abad ke-15. Mesin cetak ini yang semulanya dibuat untuk tujuan yang sepenuhnya berwatak gospel yaitu untuk mempermudah penyebarluasan Injil kepada seluruh keluarga di Eropa, ternyata telah memberi jalan bagi perluasan ide-ide yang lain. Sebelum di temukannya mesin yang sanggup mencetak secara massal, semua buku di cetak dengan tekhnik “litograf” (mencetak diatas batu berukir), atau ditulis tangan. Penemuan mesin cetak ini merupakan pendobrak awal terhadap rintangan utama yang menghalangi berkembangnya pengetahuan dan ide-ide baru selama ini. Dan Bombardemen ide-ide dan gagasan baru ini di dukung oleh dua temuan berikutnya.
2. Penemuan senjata api, dengan alat ini kemudian bangsa barat mulai mengimplementasikan “kehendak untuk berkuasa”-nya terhadap bangsa-bangsa lemah, seperti yang kita ketahui tadi bahwa dengan ditemukannya mesin cetak semua ide-ide baru muncul, dan inilah kiranya juga yang disebut oleh Fredrich Engels dengan revolusi industri, dan sejarah kelas seperti yang di analisis oleh Karl Marx akhirnya terwujud. Ada kelas yang berkuasa ada yang tidak. Ketika bahan baku untuk penyediaan industri-industri menurun akibat banyaknya permintaan, “Bangsa Barat’ kemudian mulai melakukan perjalanan-perjalanan ke daerah-daerah “baru” untuk mencari bahan baku itu.
3. Kompas (alat penunjuk arah) menjadi bagian penting yang tidak bisa dinafikan dalam melakukan perjalanan-perjalanan mencari “dunia baru’ tersebut, banyak deretan nama yang ikut tercatat sebagai petualang-petulang penakluk bangsa-bangsa baru itu, Colombus, Marco polo, Alfonso d’alburqueque, dll (walaupun dalam sejarah islam kita telah mengenal Ibn Khaldun yang sudah terlebih dahulu melakukan perjalanan dengna kompas ini sebenarnya)
Dengan ketiga alat tersebut dimulailah sejarah baru kehiduan bangsa-bangsa “baru” yang ditemukan tadi. Mesin cetak untuk penyebaran gagasan baru, senjata untuk me-lakukan penkalukan-penaklukan, kompas untuk melakukan perjalanan-perjalanan jauh ke daerah-daerah “baru” itu.
Kemudian ini disebut sebagai zaman Kolonialisme Awal, dengan modus “perdagangan” dan mencari bahan-bahan baku untuk industri di Barat yang mengalami kemajuan pesat. Setelah terkungkung lebih 4 abad, maka praktek kolonialisme mulai terbangun, dengan kecanggihan (pada waktu itu) yang dimiliki oleh armada-armada Portugis, Inggris, Spanyol, Belanda, dll mereka dengan mudah memikat penduduk lokal daerah-daerah timur.
Dampak positif:
§ Adanya perubahan dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan. Di mana terjadi pembagian dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu lain mulai lepas dari ilmu agama dan falsafahnya, misalnya ilmu sosial : ilmu bumi, ilmu sejarah dll. Begitu juga dengan ilmu eksak seperti ilmu alam.
§ Kebangunan kembali dari peradaban. Zaman ini membongkar hasil peradaban Yunani-Romawi.
§ Renaissance telah membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju. Keadaan ini telah melemahkan kedudukan dan kekuasaan golongan gereja yang senantiasa berusaha menyekat perkembangan ilmu dan masyarakat di Eropa.
§ Tumbuhnya kebebasan, kemerdekaan, dan kemandirian individu.
§ Renaissance telah melahirkan tokoh-tokoh perubahan di Eropa. Antara lain tokoh perubahan terkenal itu adalah William Harvey yang telah memberi sumbangan dalam kajian peredaran darah. Renaissance telah melahirkan masyarakat yang lebih progresif dan wujud semangat mandiri sehingga membawa kepada aktivitis penjelajahan dan kemajuan
§ Mendorong pencarian daerah baru sehingga berkobarlah era penjelajahan samudera.
Dampak negatif:
§ Eropa pada priode ini benar-benar mendapat ancaman dari orang-orang Arab. Pada khalifah Umayah telah meluaskan wilayah taklukannya hingga daerah-daerah seputar pintu-pintu gerbang Konstantinopel walaupun pada akhirnya pengepungan yang dilakukan Arab gagal total.
§ Munculnya suatu isu yang di sebut Kontroversi Ikonoklastik yang berisi bahwa apakah imaji-imaji tentang Tuhan, Kristus, dan sang perawan Maria serta orang-orang suci baik dalam bentuk gambar maupun patung boleh dipergunakan di dalam Misa atau tidak. Kontroversi ini mengundang persoalan lama yaitu tentang kebebasan agama yang terpisah dan bebas dari organisasi politik.
Pada masa ini selain terjadi kebangunan kembali juga terjadi kebobrokan moral. Hal ini dikarenakan tidak adanya suatu norma yang bisa mengatur kehidupan masyarakat. Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia renaissance merupakan manusia yang tidak mempunyai pegangan (liar). Keliaran ini mengakibatkan terjadinya pelanggaran terhadap norma sehingga manusia mengalami krisis aklak seperti mabuk-mabukan, dll. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan borjuis tetapi juga dikalangan pendeta.
Renaisscance (gerakan pencerahan) pada abad ke-15 yang terjadi di Eropa untuk menentang kesewenang-wenangan gereja.

Orang tidak bisa lari dari sejarah/mengingkari sejarah
Maka silahkan anda mandalami Injil dan apa yang anda temukan. Dan silahkan mendalami Al-Qur’an coba anda telaah dan renungkan keduannya, dengan hati dan pikiran yang jernih
Beberapa faktor lain penyebab Renaisscance:
- Berawal dari kesewenang-wenangan gereja pada waktu itu yang membebani rakyat kecil di Eropa, mulai dari indulgensia (surat penebusan dosa) dengan menggunakan uang sebagai penebusnya.
- Gereja banyak mengekang pikiran masyarakat Eropa yang ingin maju di bidang ilmu pengetahuan. Mereka tidak mau lagi di pasung pikirannya oleh dogma-dogma gereja yang tidak sesuai dengan akal sehat
- Inti dari pada dogma gereja jangan terlalu banyak menggunakan akal tetapi cukup dengan meyakini dogma gereja meskipun bertolak belakang dengan akal sehat. Maka mereka harus meyakininya dan mengikutinya serta berkeyakinan penuh bahwa apa yang keluar dari gereja mutlak suatu kebenaran. Dan inilah esensi iman menurut pihak gereja
- Copernicus korban kekejaman dan kediktatoran gereja pada abad ke-15, pada saat itu Copernicus dengan menggunakan teropong sebagai alat bukti sekaligus alat bantu yang canggih di waktu itu beliau memaparkan hasil risetnya bahwa matahari sebagai pusat tata surya bumi dan planet-planet yang lainnya mengelilingi matahari/sering disebut teori heliosentris, sedangkan dogma gereja meyakini bumilah sebagai pusat tata surya, mataharilah yang mengelilingi bumi di sebut dengan teori geosentris
- Karena Copernicus tetap pada pendiriannya tersebut. Maka dia dituntut dan dihukum mati oleh pihak gereja dikarenakan bertentangan dengan dogma gereja. Padahal Copernicus jelas dengan menggunakan alat bantu sebagai alat bukti, sedangkan pihak gereja hanya dengan angan-angan dan perkiraan.
Dari peristiwa-peristiwa inilah maka masyarakat Eropa sangat muak dan tidak tahan! Akhirnya muncullah gerakan Renaisscance. Selain faktor-faktor tersebut, gerakan ini terinspirasi oleh kemajuan Islam terutama pada kekhalifahan Islam di Andalusia (Spanyol) yang berpusat di Cordova. Selain Spanyol sebagai pusat Islam di Eropa. Banyak pemuda-pemuda Eropa yang memperdalam  ilmu pendidikan di sekolah sekolah dan universitas di Cordova.
Kemudian pemuda Eropa inilah sebagai letak dasar/pelopor gerakan renaisscance di Eropa kemudian muncullah istilah sekuler yang memisahkan antara kehidupan/kepemerintahan dari agama dikarenakan arogansi gereja.
Dogma-dogma gereja sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam!  Yang sangat menganjurkan manusia untuk berfikir dengan akalnya untuk menggali ilmu pengetahuan. Bukti otentiknya ialah Islam mempunyai sejarah yang gemilang di bidang ilmu pengetahuan. Pada Bani Abbasiyah abad ke-10 sampai abad ke-12 dengan dijadikannya Cordova sebagai pusatnya pendidikan dan kiblat dunia dalam ilmu pengetahuan.
Berikut ilmuan-ilmuan muslim abad pertengahan
1. Jabir bin Hayyan (Geber), Bapak Kimia Modern
Abu Musa Jabir bin Hayyan atau lebih dikenal dengan nama Geber di dunia Barat, diperkirakan lahir di Kuffah, Irak pada tahun 750 dan wafat pada tahun 803. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang Kimia. Dialah ilmuwan yang pertama kali meletakkan pondasi ilmu kimia modern. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.
Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.
2. Ibnu Rusyd (Averrous), Filsuf Muslim
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Cordova (Spanyol) pada tahun 520 Hijriyah (1128 Masehi). Ayah dan kakeknya adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, filsafat. Sementara ilmu filsafat sendiri ia dalami dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.
Ia adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar dihabiskan untuk mengabdi sebagai seorang “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat ia dikenal sebagai komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas.
Karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai, dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.
Sebagian seorang ahli filsafat, Ibnu Rusyd mempunyai dua jenis filsafat, yaitu filsafat Ibnu Rusyd sebagaimana yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan, dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.
Karyanya di antaranya:
- Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
- Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
- Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-HIkmat wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat)
3. Ibnu Sina (Avicenna): Bapak Kedokteran
Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicenna, seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi Uzbekistan). Karyanya yang sangat fenomenal dalam bidang kedokteran adalah Qanun fi Tibb yang merupakan rujukan utama di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Dialah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Kebanyakan di antaranya memusatkan pada filsafat dan kedokteran. Dia dianggap oleh orang banyak sebagai “Bapak Kedokteran Modern”. George Sarton menyebut Ibnu Sina, “ilmuan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu,” Pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai Qanun (judul lengkapnya: Al-Qanun fi At-Tibb)
Ia lahir pada tahun 370 H/980 M di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan. Ayahnya seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khurasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Manshur, sekarang wilayah Afghanistan.
Dia mempelajari kedokteran pada usia 16 tahun, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri ia menemukan metode-metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran bukanlah ilmu yang sulit dan menjengkel-kan seperti matematika dan metafisika, saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat-obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.
4. Al-Biruni, Matematikawan Muslim
Al-Biruni merupakan seorang matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru. Namun ia banyak menyumbang dalam bidang matematika, filsafat, dan obat-obatan. Nama lengkapnya adalah Abu Raihan Al-Biruni yang lahir di daerah Khawarazm di Asia Tengah. Dia mempelajari ilmu matematika dan ilmu falak (perbintangan) dari Abu Nashr Manshur. Ia merupakan teman dari Ibnu Sina.
Saat beliau berumur 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khawarazm, dengan menggunakan latitude maksima matahari. Selanjutnya saat beliau beranjak umur 22 tahun, ia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajiannya mengenai proyeksi peta, “Kartografi”, yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar.
Saat beliau berusia 27 tahu, ia menulis buku “Kronologi”  yang merupakan hasil eksperimen beliau termasuk buku tentang Astrolab, sebuah buku tentang sistem bilangan desimal, 4 buku lainnya tentang pengkajian bintang, dan 2 buku mengenai sejarah. Ia berhasil menjadi ilmuwan yang produkti karena telah menulis 120 buku. Sumbangannya dalam ilmu matematika di antaranya:
- Aritmetika teoritis dan praktis
- Analisis kombinatorial
- Penjumlahan seri
- Bilangan irasional
- Kaidah angka 3
- Metode pemecahan penjumlahan aljabar
- Definisi aljabar
- Sudut segitiga
- Teorema Archimedes
- Teori perbandingan, dan
- Geometri
Hal yang sangat menarik juga adalah bahwa beliau membuat sebuah penelitian tentang jari-jari bumi yaitu sekitar 6.339,6 kilometer. Hasil ini kemudian selanjutnya diulang di Barat pada abad ke-16.
Gerakan kristenisasi di Indonesia
Banyaknya kristenisasi, apa saja yang menyebabkanya?
Faktor Ekonomi
Jika orang-orang Eropa bebondong-bondong melakukan gerakan Renaisscance, kenapa di Indonesia justru banyak kristenisasi terjadi? Maka dapat kita analisa dengan mudah.
Biasanya terjadi di daerah minus/pinggiran/masyarakat marjinal atau tersingkirkan, yang mana keadaan ekonomi mereka sangat lemah. Maka sesuai sabda Nabi, “Kefakiran lebih dekat kepada kekafiran.”
Faktor sumberdaya manusia ( SDM)
Minimnya ilmu agama, tidak bisa di pungkiri banyak umat Islam saat ini yang tidak faham esensi daripada islam itu sendiri. Mereka beragama Islam, tidak lain hanya faktor keturunan sehingga tidak faham nilai-nilai islam. Maka dengan ekonomi yang lemah dan SDM yang lemah, ikut lemahlah iman mereka sehingga terjatuh di lembah pemurtadan
Faktor kesenjangan sosial
Di era saat ini banyak sekali terjadi kesenjangan/ketimpangan status sosial yang sangat mencolok. Antara si kaya dan si miskin. Sikaya enggan mangeluarkan zakat. Maka dari sikap ketidak-pedulian. Inilah terbuka peluang untuk melakukan kristenisasi. Dengan berbagai kedok biaya sekolah gratis, bantuan sembako, pengobatan gratis dan sebagainya.
Kenapa di Indonesia sangat rawan kesenjangan sosial, dikarenakan pemahaman esesnsi agama hanyalah makna ritual saja, sebagaimana sholat, haji, puasa, dzikir, dan lain-lain. Padahal ada hal yang tak kalah penting yaitu tentang hubungan baik antar manusia, interaksi sosial dengan masyarakat, menumbuhkan semangat kebersamaan, merajut ukhuwah dan lain-lain
Tetapi hal ini sering kita lupakan, karena pada umumnya manusia hanya mencari titik aman, jika kita sedang diatas maka kita lupa dengan yang di bawah, padahal dalam amalan-amalan ibadah keseharian kita, Islam telah memberikan hikmah serta mewajibkan nilai-nilai ibadah yang bersangkutan langsung dengan aspek sosial masyarakat, seperti zakat, puasa, menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya di setiap nilai ibadah dalam Islam terkandung aspek vertikal dan horizon (hablum minnalloh dan hablum minanaas)
Karena kita melalaikan hal tersebut maka umat yang lain justru dengan sangat gencar, melakukan aksi-aksi sosial ini dengan berbagai modus, pembiayaan sekolah, pengobatan gratis, sampai pada aksi-aksi jalanan pun mereka bidik, mulai Car free day, kemudian pemberian kupon berhadiah, dan lain-lain. Lihatlah betapa hebat dan semangatnya mereka, dan ini sudah bukan rahasia lagi, anda dengan sangat mudah akan menemukannaya di jalan umum, dan kita umat Islam justru ternina bobokan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar